Geolistrik adalah metode yang sangat efektif untuk eksplorasi air tanah dan akuifer, terutama di daerah perkebunan sawit yang didominasi oleh sedimen pasir. Metode ini membantu mengidentifikasi kedalaman, ketebalan, dan kualitas air tanah, serta membedakan lapisan yang mengandung air dari yang tidak.


1. Prinsip Geolistrik dalam Eksplorasi Air Tanah

Air tanah mempengaruhi nilai resistivitas listrik. Umumnya:

  • Lapisan jenuh airResistivitas rendah (1–50 Ωm)
  • Pasir keringResistivitas sedang (50–500 Ωm)
  • Pasir jenuh airResistivitas rendah (5–50 Ωm, tergantung mineralisasi air)
  • Lempung/ClayResistivitas sangat rendah (1–10 Ωm, tidak permeabel)

Di kebun sawit yang dominan sedimen pasir, akuifer sering berada di lapisan pasir jenuh air dengan resistivitas rendah hingga sedang.


2. Pemilihan Metode dan Desain Survey

Untuk eksplorasi air tanah di perkebunan sawit, metode Vertical Electrical Sounding (VES) atau 2D Resistivity Imaging sangat direkomendasikan.

Pemilihan Konfigurasi Elektroda

KonfigurasiKelebihanKekurangan
SchlumbergerBaik untuk eksplorasi air tanah yang dalamWaktu pengukuran lebih lama
Wenner-SchlumbergerKombinasi kedalaman dan resolusi lateral yang baikButuh banyak titik pengukuran
Dipole-DipoleResolusi lateral tinggi, cocok untuk akuifer dangkalKedalaman terbatas

Desain Survey

  • Jarak antar elektroda: 5–10 meter untuk eksplorasi dangkal, 10–20 meter untuk eksplorasi dalam.
  • Panjang lintasan: 200–400 meter untuk mendapatkan gambaran luas.
  • Jumlah titik pengukuran: Semakin banyak titik, semakin detail hasil interpretasi.

3. Pengambilan Data di Lapangan

Langkah-langkah Pengukuran

  1. Persiapan Lokasi
    • Identifikasi daerah dengan potensi air tanah tinggi (cek topografi, vegetasi, dan sumur terdekat).
    • Pastikan tanah tidak terlalu kering atau terlalu basah untuk kontak elektroda yang baik.
  2. Pemasangan Elektroda
    • Gunakan elektroda stainless steel atau grafit.
    • Jarak elektroda disesuaikan dengan target kedalaman.
  3. Pengambilan Data dengan SuperSting R8
    • Hubungkan elektroda ke alat geolistrik SuperSting R8.
    • Pilih metode pengukuran (Schlumberger atau Wenner-Schlumberger).
    • Atur parameter arus dan tegangan untuk mendapatkan sinyal optimal.
  4. Pengecekan Kualitas Data
    • Lakukan stacking (pengulangan pengukuran) untuk mengurangi noise.
    • Pastikan nilai resistivitas tidak menunjukkan anomali akibat gangguan eksternal.

4. Interpretasi Data dan Identifikasi Akuifer

Tahapan Analisis

  1. Filtering Data
    • Hapus anomali akibat kontak elektroda yang buruk atau gangguan eksternal.
    • Koreksi topografi jika ada perubahan elevasi signifikan.
  2. Inversi Data
    • Gunakan software Res2DInv atau EarthImager 2D untuk mendapatkan profil resistivitas bawah permukaan.
    • Identifikasi zona resistivitas rendah (5–50 Ωm) yang menunjukkan keberadaan akuifer.
  3. Interpretasi Akuifer
    • Pasir jenuh airResistivitas 5–50 Ωm, indikasi akuifer potensial.
    • Lapisan lempungResistivitas <10 Ωm, bisa menjadi pembatas akuifer.
    • Pasir kering atau batuan kerasResistivitas >100 Ωm, bukan akuifer.

Contoh Hasil

  • Akuifer ditemukan pada kedalaman 10–25 meter dengan ketebalan sekitar 15 meter.
  • Air berpotensi tersedia dalam jumlah besar jika formasi pasir cukup tebal.
  • Jika terdapat lapisan lempung di atas akuifer, kemungkinan akuifer tertekan (confined).

5. Kesimpulan dan Rekomendasi

Gunakan metode Schlumberger atau Wenner-Schlumberger untuk eksplorasi air tanah di sedimen pasir.
Lapisan pasir jenuh air (5–50 Ωm) menunjukkan zona akuifer potensial.
Hindari lapisan lempung sebagai sumber air karena permeabilitasnya rendah.
Gunakan sumur uji untuk verifikasi hasil geolistrik sebelum pengeboran sumur produksi.

Posted in , , , , , , , ,

Tinggalkan komentar