Dalam eksplorasi air tanah menggunakan survey geolistrik, langkah utama adalah menentukan volume akuifer dan memperkirakan cadangan air tanah berdasarkan hasil resistivitas.
1. Identifikasi Akuifer dari Hasil Geolistrik
Setelah melakukan survey geolistrik menggunakan Schlumberger atau Wenner-Schlumberger, akuifer dapat diidentifikasi berdasarkan resistivitas:
- Pasir jenuh air → 5–50 Ωm (akuifer potensial)
- Lempung → <10 Ωm (bukan akuifer)
- Batuan keras → >100 Ωm (non-akuifer)
Dari hasil interpretasi geolistrik, tentukan parameter berikut:
- Ketebalan akuifer (h) dalam meter
- Luas area akuifer (A) dalam meter persegi
- Porositas efektif (n) dalam persen
- Koefisien penyimpanan (S) untuk air tanah dalam atau akuifer tertekan
2. Perhitungan Cadangan Air Tanah
Cadangan air tanah dapat dihitung menggunakan rumus:
1. Volume Air Tersedia dalam Akuifer
V=A×h×nV = A \times h \times n
Dimana:
- VV = Volume air yang dapat disimpan (m³)
- AA = Luas area akuifer (m²)
- hh = Ketebalan akuifer (m)
- nn = Porositas efektif (% → dalam desimal)
2. Debit Air yang Bisa Diambil (Q)
Jika ingin mengetahui debit air yang bisa diambil dari akuifer: Q=S×A×hQ = S \times A \times h
Dimana:
- QQ = Debit maksimum (m³/hari)
- SS = Koefisien penyimpanan (untuk akuifer bebas: 0.01–0.30, akuifer tertekan: 0.0001–0.01)
Contoh Perhitungan:
Dari hasil survey geolistrik:
- Luas akuifer (A) = 5000 m²
- Ketebalan akuifer (h) = 20 m
- Porositas efektif (n) = 0.25 (25%)
Maka, volume air tersedia: V=5000×20×0.25=25,000 m³V = 5000 \times 20 \times 0.25 = 25,000 \text{ m³}
Jika koefisien penyimpanan (S = 0.02 untuk akuifer bebas), maka debit air per hari: Q=0.02×5000×20=2000 m³/hariQ = 0.02 \times 5000 \times 20 = 2000 \text{ m³/hari}
3. Rekomendasi Titik Bor Air Tanah
Kriteria Pemilihan Lokasi Sumur Bor
✔ Dekat dengan anomali resistivitas rendah (menunjukkan air tanah jenuh)
✔ Hindari zona resistivitas sangat rendah (<5 Ωm) → bisa jadi lempung (impermeabel)
✔ Cek kedalaman akuifer optimal (hasil geolistrik menunjukkan ketebalan 10–30 m)
✔ Jauh dari polusi atau sumber kontaminasi (misal septic tank, limbah)
✔ Dekat dengan area kebutuhan air (agar efisien dalam distribusi)
Metode Verifikasi Titik Bor
- Survey tambahan (GPR atau borehole logging) untuk konfirmasi zona jenuh air
- Pengeboran sumur uji (piezometer) untuk mengukur kedalaman air tanah
- Uji debit air untuk memastikan akuifer cukup produktif
4. Kesimpulan & Rekomendasi
✔ Gunakan hasil geolistrik untuk menentukan ketebalan dan luas akuifer
✔ Hitung volume air berdasarkan luas area dan porositas
✔ Pilih titik bor di zona resistivitas 5–50 Ωm yang menunjukkan pasir jenuh air
✔ Lakukan uji debit sebelum menentukan sumur produksi
di bawah adalah perhitungan volume air dari nilai resistivitas yang sudah dilakukan di lapangan dengan menggunakan software pendukung. Volume tersebut masih berupa air dan materialnya sehingga perlu dilakukan persentase kandungan air dari total volume yang dihitung.





Tinggalkan komentar