• Pemodelan Kedepan Survey Seismik 2-D untuk Optimasi Akuisisi

    tesseral-5

    Model Geologi

    tesseral-1Data gather pada shot 1

    tesseral-2

    Data gather pada shot 4

    tesseral-3

    penjalaran gelombang (Ray tracing)

    tesseral-4

    Data gather

    Pemodelan kedepan untuk survey seismik banyak digunakan untuk menentukan parameter yang pas di saat kita melakukan survey di lapangan, ini penting karena kondisi dan situasi di lapangan akan berubah yang berhubungan dengan ketebalan tanah, kecepatan gelombang daerah survey, source yang tidak bagus dan geophone yang digunakan dan banyak hal lain yang berhubungan dengan kelancaran dan di dapatkanya data yang bagus dari lapangan.

    Sangat penting ketika geologi daerah survey mempunyai struktur yang komplek karena dengan menerapkan uji parameter akan membantu mengurangi biaya dan waktu terutama untuk hasil yang lebih bagus.

    Data yang dihasilkan dari pemodelan ini berupa data ray-tracing, snap dari penjalaran gelombang dan juga data gather yang bisa di konversi ke data seg-y.Pemodelan di atas menggunakan software tesseral, bisa juga menggunakan software Mesa untuk menghitung optimasi fold, angle, dan lainya dalam design survey seismik 3-D.

  • Perbandingan Alat GPR antara UltraGPR, Mala RTA 25MHz, GSSI 40 dan 80 MHz

    team2Mala RTA 25MHz

    u6Contoh GSSI 200MHz dan 400MHz

    akusisi2

    UltraGPR 10MHz

    Seperti halnya data yang dihasilkan dari alat Mala RTA 25MHz, GSSI frekuensi 80 dan 40 MHz, ultra GPR juga mempunyai karakter yang sama yaitu menembakan gelombang dari transmitter ke receiver setelah melalui medium di bawah permukaan bumi dan medium udara maka gelombang di rekam berupa amplitude-amplitude yang mengindikasikan adanya sifat fisis dari tiap batuan yang di lewati sepanjang travel time. Sifat fisis yang biasa dihitung untuk analisis kecepatan dn kedalaman adalah kontstanta dielektrik, konduktivitas dan resistivitasnya.

    Perbedaan dari produk Mala, GSSI dan UltraGPR sendiri terdapat pada skin depthnya (penetrasi kedalamanya), dengan kondisi yang homogen relatif tidak berubah komposisi batuanya, Mala RTA 25MHz bisa mencapai target maksimum 30m-50m, sedangkan untuk GSSI frekuensi 40MHz mencapai target 25m-35m, sedangkan untuk UltraGPR bisa mencapai target maksimum 100m-160m. Perbedaan kedalaman dan resolusi tersebut lebih karena frekuensi yang digunakan berbeda dan juga stack dan sampling frekuensi dari tiap-tiap trace berbeda jauh sehingga UltraGPR lebih dalam untuk penetrasinya dan juga resolusi baik vertikal atau horizontalnya.

    Selain itu, UltraGPR juga mempunyai keefektifan yang terbaru dibanding alat-alat lainya, yaitu hasil rekaman yang masuk ke kontrol display sudah menggunakan perangkat android dengan koneksi bluethooth sebagai koneksi antara kontrol display, system unit, receiver-transmitter dan GPS.

  • Analisis Data Down-Hole Seismic

    acqQuality Control Data Downhole seismic

    data Hasil Perekaman Data Down-hole seismic

    Perekaman data downhole seismic terbilang sangat simpel dan sederhana karena dengan menyediakan palu, balok dan pemberat dan juga alat ukur seismograph dengan geophone dan receivernya maka data akan didapat. Data downhole seismic didapatkan ketika source berupa palu atau pemukul di pukulkan ke balok atau plat dengan posisi geophone diletakan di lubang bor dengan spasi tertentu. Pemukulan palu tersebut dilakukan setiap beberapa meter dari permukaan sehingga travel time gelombang P dan S dari perekaman akan terlihat secara kontinu dengan kedalaman tertentu.

    travel timeTravel Time gelombang P dan S

  • Real time Interpretasi Data menggunakan UltraGPR

    l15 l18

    Hasil Interpretasi Data UltraGPR

    Pengolahan data UltraGPR bisa langsung dilakukan setelah selesai melakukan pengukuran karena integrasi antara komponen dan perangkat software yang sudah bagus sehingga dalam waktu singkat bisa diketahui kedalaman, ketebalan dan lainya.

    Konversi time to depth sendiri dilakukan langsung dengan menghitung angle dari hyperbole data yang sudah d ukur sehingga kecepatan dari tiap lapisan bisa langsung diketahui tanpa harus melakukan kalibrasi dan korekasi terhadap lapisan sampel.

  • Survey Downhole Seismic Untuk Geoteknik dan Kontruksi


    down-hole seismic-1Peralatan yang digunakan

    down-hole seismic-2Pengambilan Data downhole seismic

    Survey down-hole seismic merupakan metode geofisika yang memanfaatkan gelombang elastik dari source yang di hasilkan dari getaran, dalam hal ini getaran didapatkan dari palu yang di pukulkan ke kayu atau plat besi yang di pasang sekitar lubang bor berdiameter 8-12 inch atau lebih.

    Pengukuran down-hole seismic sendiri dengan meletakan source pada deket lubang bor dan meletakan receiver-receiver atau geophone pada kedalaman tertentu dalam lubang bor (biasanya per 1 meter) sehingga didapatkan travel time dari tiap-tiap gelombang.

    Gelombang yang didapat dari pengukuran ini ada gelombang P, S dan lainya tergantung kebutuhan tetapi umumnya gelombang yang akan di olah untuk dikombinasikan dengan data sipil ada gelombang P dan S.

    Pengukuran down-hole seismic sendiri sangat sederhana karena menggunakan palu dan peralatan yang tidak terlalu berat, dan juga analisis dari datanya relatif mudah karena pemisahan antara gelombang P dan S jelas terlihat dari data yang di rekam pada seismograf.

  • Interpretasi lapisan soft dan hard eksplorasi nickel laterit (limonite dan saprolite serta bedrock) dari survey UltraGPR

    l11

    Interpretasi limonite, saprolite dan bedrock dengan UltraGPR

    Seperti halnya data yang dihasilkan dari alat Mala RTA 25MHz, GSSI frekuensi 80 dan 40 MHz, ultra GPR juga mempunyai karakter yang sama yaitu menembakan gelombang dari transmitter ke receiver setelah melalui medium di bawah permukaan bumi dan medium udara maka gelombang di rekam berupa amplitude-amplitude yang mengindikasikan adanya sifat fisis dari tiap batuan yang di lewati sepanjang travel time. Sifat fisis yang biasa dihitung untuk analisis kecepatan dn kedalaman adalah kontstanta dielektrik, konduktivitas dan resistivitasnya.

    Perbedaan dari produk Mala, GSSI dan UltraGPR sendiri terdapat pada skin depthnya (penetrasi kedalamanya), dengan kondisi yang homogen relatif tidak berubah komposisi batuanya, Mala RTA 25MHz bisa mencapai target maksimum 30m-50m, sedangkan untuk GSSI frekuensi 40MHz mencapai target 25m-35m, sedangkan untuk UltraGPR bisa mencapai target maksimum 100m-160m. Perbedaan kedalaman dan resolusi tersebut lebih karena frekuensi yang digunakan berbeda dan juga stack dan sampling frekuensi dari tiap-tiap trace berbeda jauh sehingga UltraGPR lebih dalam untuk penetrasinya dan juga resolusi baik vertikal atau horizontalnya.

    Selain itu, UltraGPR juga mempunyai keefektifan yang terbaru dibanding alat-alat lainya, yaitu hasil rekaman yang masuk ke kontrol display sudah menggunakan perangkat android dengan koneksi bluethooth sebagai koneksi antara kontrol display, system unit, receiver-transmitter dan GPS.

  • Pemisahan Batuan Andesit Primer dan Skunder pada Data Geolistrik

    line1_andesit_primer dan skunder - CopyModel Penampang 2-D Resistivity

    line1_andesit_primer dan skunder 2- CopyModel sebaran geologi berdasarkan nilai resistivitasnya

    Penampang diatas merupakan model resistivitas dan geologi yang berdasarkan nilai resistive batuanya. Warna jingga merupakan model batuan geologi skunder yang berasal dari batuan primer tapi sudah terjadi pelapukan, sedangkan warna merah merupakan model batuan geologi primer yang masih fresh belum terpisah secara bongkah dan relatif masih mempunyai sebaran yang kompak atau tidak terpisah.

    Model geologi ini akan mempermudah indikasi awal apakah suatu batuan yang punya ekonomis bisa dilakukan kegiatan lanjutan seperti pengeboran dalam skala rapat atau melakukan penambangan.

  • Interpretasi Data Geolistrik/Resistivity dengan Konfigurasi Dipole-Dipole
  • Pengukuran UltraGPR yang Efektif dan Efisien

    20150902_082700 20150902_084747

    20150902_084933-1

    Pengukuran geologi bawah permukaan dengan menggunakan ultragpr sangat membantu dalam eksplorasi pertambangan dan pemetaan bawah permukaan. Ultragpr sangat efektif karena tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mengetahui kondisi bawah permukaan sedangkan efisien karena sangat membantu dan bisa mengurangi pekerjaan pengeboran dalam suatu wilayah pertambangan.

    Sistem yang digunakan oleh ultragpr sendiri sudah menggunakan aplikasi terkini yaitu andorid sehingga aman dan fleksible ketika pengukuran di lakukan pada kondisi medan yang sulit sekalipun. Selain aplikasi kontrol display yang menggunakan andorid,ultragpr juga sudah terhubung dengan gps RTK yang lebih baik dibandingkan dengan gps handheld sehingga data track dan elevasi akan lebih bagus.

  • Metode Georadar/GPR/Ground Penetrating Radar untuk Eksplorasi dan Identifikasi Nickel Laterite (Saprolite,Limonite dan Bedrock)