• Aplikasi Metode Geolistrik/Resistivity-IP untuk Eksplorasi Batubara

    bengkulu1 bengkulu2

    Dari hasil analisis Laboratorium, Peringkat Batubara Porositas (%) Kadar air asli (%) mempunyai beberapa klasifikasi:
    Lignit (A2)
    32,72
    34,98

    Sub-Bituminus B (A2)
    32,72
    25,59

    Sub-Bituminus B (A1)
    33,33
    25,59

    Sub-Bituminus A (C)
    7,45
    1,59

    Bituminus (C)
    5,48
    1.36

    Semi-Antrasite (C) 7,89 1,27

    Di sini terlihat bahwa konduktivitas batuan sangat ditentukan oleh tahanan jenisnya (Speight 1994).

    Pada eksplorasi batubara dengan menggunakan metode geolistrik memang masih perlu di lakukan dengan penelitian lebih lanjut, apalgi batubara yang disurvey terdapat didaerah yang mempunyai struktur yang komplek seperti daerah sumatera. Nilai resistivitas yang dipunyai batubara tidak mempunyai range yang panjang dibandingkan dengan lingkungan sekitarnya sehingga menyulitkan identifikasi. Perlu banyak data pendukung dan pengalaman dalam melakukan idenfitikasi batubara pada data geolistrik sehingga hasil interpretasi mempunyai sedikit kesalahan.

    Pada gambar di atas, posisi dan sebaran batubara tidak begitu jelas karena sebaran lateralnya yang tidak menerus panjang (dari data bor) tetapi relatif bagus untuk identifikasi batuan sekitarnya yang di daerah tersebut merupakan batuan andesit intrusi dan vulkanik.

    Umumnya di daerah Sumatera sebaran batubara berada pada batuan sedimen seperti batuan pasir, lempung atau mudstone, hanya sebagian kecil yang ada di daerah andesit, tetapi ada juga yang terhapit oleh batuan andesit dan itu merupakan batubara dengan kalori yang tinggi tetapi relatif tipis.

    Metode yang sering digunakan untuk mengawali survey vertikal (geolistrik, GPR atau seismik) adalah survey geomagnet. Survey geomagnet bisa mengidentifikasi sebaran secara lateral batuan andesit dan batuan sedimen sehingga ketika melakukan survey geofisika lateral tidak banyak harus mengeluarkan cost dan waktu dan terpenting bisa mengurangi titik bor.

    Hasil akhir dari survey geolistrik untuk eksplorasi batubara dengan metode geolistrik adalah:

    • Sebaran vertikal dan lateral batuan andesit atau mineral lainya dalam gambaran 2 Dimensi
    • Estimasi sebaran batubara secara vertikal dan lateral dan gambaran 2-D
    • Struktur lokal pengontrol rekahan dan pergeseran geologi sekitar
    • Penampang geologi 2 Dimensi berdasarkan sebaran nilai resistivitas batuan
    • Kompilasi data geolistrik dengan data pendukung seperti geologi permukaan, mapping atau data pengeboran
    • Sebaran vertikal dan lateral batuan andesit dan mineral lainya dalam gambaran 3 Dimensi
    • Cadangan terkira dari pemodelan 3 Dimensi
  • Aplikasi Metode Geolistrik/Resistivity-IP untuk Eksplorasi Air Tanah

    air4sectionborA4

    Air tanah adalah air yang berada di bawah permukaan tanah didalam mintakat jenuh(saturation Zone) dengan tekanan hidrostatis sama atau lebih besar dari tekanan atmosfer. Kondisi air tanah dipengaruhi oleh iklim, kondisi geologi, geomorfologi dan penutup lahan serta aktivitas manusia.

    Kondisi air tanah dapat diketahui dari kondisi akuifer. Akuifer adalah suatu lapisan batuan atau formasi geologi yang mempunyai struktur yang memungkinkan air untuk masuk dan bergerak melaluinya dalam kondisi normal (Tood, 1980)

    Menurut Suharyadi sebagian air tanah berasal dari air permukaan yang meresap masuk kedalam tanah dan membentuk suatu siklus hidrologi. Air tanah (ground water) air yang terdapat pada suatu lapisan batuan yang menyimpan dan meloloskan air yang disebut akuifer. Air tanah dapat dibedakan kedalam dua jenis yaitu air tanah bebas dan air tanah dalam. (Bakri, 2003).

    Pada dasarnya potensi air tanah sangat tergantung dari kondisi geologi terutama yang berkaitan dengan konfigurasi akuifer, struktur geologi, geomorfologi dan curah hujan. Dari jenis dan sebaran batuan berikut struktur geologi dapat diketahui jenis dan sebaran akuifer yang ada walaupun demikian tidak semua batuan berfungsi sebagai akuifer.

    Pada zona tidak jenuh air berpori-pori terisi oleh air dan sebagian lagi terisi sebagai air tanah. Air yang terdapat pada zona ini tidak termasuk dalam klasifikasi air tanah. Sebaliknya pada zona jenuh air semua pori-pori terisi oleh air dan air yang berada pada zona inilah yang disebut sebagai air tanah. Batas kedua zona tersebut adalah suatu bidang yang disebut sebagai muka air tanah (water tabel).

    Keterpadatan air tanah pada suatu daerah ditentukan oleh beberapa faktor yaitu iklim/musim (banyak hujan dan evapotraspirasi)

    1. Kondisi Penutup Lahan (Land Cover )
    2. Kondisi Geomorfologi
    3. Kondisi Geologi
    4. Aktivitas Manusia

    Sebagian besar air tanah berasal dari air hujan yang meresap masuk kedalam tanah, air tanah tersebut disebut air meteorik. Selain air meteoric ada air lain yaitu air JuvenileWateryang dapat diklasifikasikan menurut asalnya yaitu magnetic water, volkanik water  yang biasanya panas atau hangat dan mempunyai kandungan sukfur yang tinggi dan cosmic berasal dari ruang angkasa bersama dengan meteorit.

    Rejuvenate water adalah air yang berasal dari proses geologi seperti kompaksi, metamorfosa dan sedimenasi ada dua jenis yaitu Metamorf water dan Connate water. Connate water adalah air yang terperangkap dalam endapan sewaktu terjadi proses pengendapan (air biasanya payau sampai asin), (Suyono, 1995).

    Menurut Krusseman (Bakri, 2003) ditinjau dari sifat dan prilaku batuan terhadap air tanah terutama sifat fisik, struktur dan tekstur maka batuan dapat dibedakan kedalam 4 (empat) macam :

    1. Akuifer adalah lapisan batuan yang mempunyai susunan sedemikian rupa sehingga dapat meyimpan dan mengalirkan air tanah yang cukup berarti seperti batu pasir, dan batugamping
    2. Akuiklud adalah lapisan batuan yang dapat meyimpan air akan tetapi tidak dapat mengalirkan air tanah dalam jumlah yang cukup berarti seperti lempung, shale, tuf halus
    3. Akuitar adalah lapisan batuan yang dapat menyimpan air tetapi hanya dapat mengalirkan air tanah dalam jumlah yang sangat terbatas seperti basal scoria, serpih, napal, dan batulempung
    4. Akuiflug adalah lapisan batuan yang tidak dapat menyimpan dan mengalirkan air tanah seperti batuan beku dan batuan metamorf dan kalaupun ada air pada lapisan batuan tersebut hanya terdapat pada kekar atau rekahan batuan saja.

    Apabila ditinjau dari sifat dan stratigrafi batuan di alam maka lapisan akuifer dapat dibedakan, antara lain :

    1. Unconfined akuifer (Akuifer bebas) adalah suatu akuifer dimana muka air tanah merupakan bidang batas sebelah atas dari zona jenuh air. Air tanah yang terdapat pada lapisan akuifer ini disebut air tanah tidak tertekan dimana muka air tanahnya disebut muka air tanah pheartik
    2. Confined akuifer (akuifer tertekan) adalah suatu akuifer dimana air tanahnya terletak dibawah lapisan kedap air dan mempunyai tekanan lebih besar dari pada tekanan atmosfer. Air tanah ini dibatasi oleh lapisan kedap air pada bagian atas maupun bagian bawahnya. Muka air tanah artesis oleh karena dilakukan pemboran maka muka air tanah akan bergerak naik ke atas mendekati permukaan tanah atau memancar sampai pada keadaan tertentu.
    3. Leakage akuifer (semi confined akuifer) adalah suatu lapisan akuifer dimana air tanahnya terletak pada suatu lapisan yang bersifat setengah kedap air dan posisi batuan akuifernya terletak antara akuifer bebas dan akuifer tertekan
    4. Ferced aquifer (akuifer menggantung) adalah akuifer dimana massa air tanahnya terpisah dari air tanah induk oleh lapisan yang relatife kedap air yang tidak begitu luas dan terletak pada zona tidak jenuh air.

    Tabel Daftar Nilai Resistivitas Berbagai Jenis Mineral

    No

    Mineral Resistivitas ( Ωm)
    1 Tanah 1.000-10.000
    2 Air Dalam Lapisan Alluvial 10-30
    3 Air Sumber 50-100
    4 Pasi Dan Kerikil Kering 1.000-10.000
    5 Pasir Dan Kerikil Yang Mengandung Air Tawar 50-500
    6 Pasir Dan Kerikil Yang Mengandung Air Asin 0.5-5
    7 Air Laut 0.2
    8 Napal 20-200
    9 Batu Gamping 300-10.000
    10 Batu Pasir Lempung 50-300
    11 Batu Pasir Kuarsa 300-10.000
    12 Tufa Gunung Api 0.5-5
    13 Lava 100-300
    14 Serpih 300-3.000
    15 Geniss, Granit Selingan 100-1.000
    16 Serpih Mengandung Grafit 0.5-5
    17 Granit 1.000-10.000
    18 Air Permukaan 80-200
    19 Air Tanah 30-100
    20 Konglomerat 100-500
    21 Alluvium – Dilivium

    1. Lapisan Slit Lempung
    2. Lapisan Pasir
    3. Lapisan Pasir Dan Kerikil
    10-200

    100-600

    100-1.000

    22 Neo-Tersier

    1. Batu Lumpur
    2. Batu Pasir
    3. Kelompok Andesit
    4. Kelompok Chert, Slate

    20-200

    50-500

    100-500

    200-2000

    Dari hasil pengukuran geolistrik, banyak digunakan pengukuran 1-D atau 2-D untuk memetakan sebaran air tanah di bawah permukaan. Eksplorasi air tanah menggunakan metode geolistrik memang cukup bagus, dari 10 pekerjaan dengan menggunakan metode ini 8 diantaranya berhasil menemukan kondisi air tanah di bawah permukaan, yang lainya bukan berarti tidak bisa tetapi kondisi ditiap daerah mempunyai spesifikasi dan kondisi geologi yang berbeda.

    Hasil akhir dari survey geolistrik untuk memetakan sebaran air tanah adalah:

    • sebaran vertikal dan lateral kondisi air tanah di bawah permukaan dalam 1-D dan 2-D
    • struktur lokal berupa rekahan dan pola pengontrol geologi di sekitar study
    • korelasi dengan data pendukung seperti test pit dan bor
    • estimasi cadangan terkira dengan memodelkan nilai resistivitasnya dengan gambaran 3-D
  • Aplikasi Metode Geolistrik/Resistivity-IP untuk Eksplorasi Biji Besi

    iron5 iron4 iron3 iron2 iron1

    Dalam eksplorasi biji besi sering dihadapkan pada medan yang sulit karena lokasinya di daerah berbukit dan dengan topografi yang bergelombang. Mineral biji besi pada umumnya di dapatkan di daerah dengan struktur dan geologi yang komplek dengan lingkungan pembentukannya berupa daerah vulkanik atau intrusi.

    Pola yang digambarkan dalam data geolistrik biasanya mengikuti pola yang diperlihatkan pada sebaran batuan andesit atau vulkanik ini dikarenakan biji besi terbentuk dan termineralisasi di batuan beku (andesit atau vulkanik), dan sangat dianjurkan sebelum melakukan survey geofisika seperti geolistrik, atau geomagnet perlu dilakukan terlebih dahulu survey permukaan geologi berupa identifikasi biji besi, pola pembentukan dan sebaranya serta struktur yang mengontrol daerah tersebut.

    Pada gambar di atas, merupakan contoh sebaran biji besi berupa boulder dan mineralisasi yang nempel pada batuan andesit sehingga ada 2 pola yang perlu di perhatikan yaitu pola yang diakibatkan oleh sebaran biji besi yang berupa boulder dan pola yang diakibatkan oleh mineralisasi pada batuan beku.

    Hasil akhir yang bisa di sajikan dalam survey geolistrik dan IP adalah:

    • sebaran vertikal dan lateral kondisi geologi bawah permukaan
    • Sebaran vertikal dan lateral biji besi berupa penampang 2-D
    • struktur lokal berupa rekahan dan pola pengontrol geologi di sekitar study
    • korelasi dengan data pendukung seperti test pit dan bor
    • estimasi cadangan terkira dengan memodelkan nilai resistivitas dan chargeabilitynya dengan gambaran 3-D
  • Aplikasi Metode Geolistrik/Resistivity-IP untuk Eksplorasi Mangan

    4

    Mangan yang berbentuk lapisan

    1

    Mangan berbentuk Nodule di dasar laut

    2

    Mangan berbentuk Nodule yang ada di permukaan

    5

    Mangan yang berbentuk Bolder

    Beberapa hal yang penting tentang mangan sebelum melakukan analisis dari data resistivity-IP adalah:

    • Lingkungan adanya mangan banyak di temui di batuan lempung, ini ditemukan didaerah timur tetapi ada juga yang memang terbentu hasil dari mineralisasi yang berasosiasi dengan batuan beku
    • Dimensi mangan beravariasi tergantung proses pembentukannya, ada yang berbentuk nodul-nodul, lapisan ada juga yang boulder dan ini akan sangat membantu ketika suatu daerah mempunyai type yang mana sehingga penentuan dalam melakukan survey geofisika lebih tepat dan efisien.
  • alat2

    Alat Resistivity dari ARES 48 Elektroda

    9

    Pemasangan Elektroda dalam titk-titik dalam lintasan

    A1

    Model Penampang 2-D

    A2

    Gambaran Regional Sebaran batuan secara geologi

    volume

    Model solid 3-D yang merupakan kalkulasi Cadangan terkira batuan Andesit

    Dari survey geolistrik untuk andesit bisa dilakukan untuk output atau hasil seperti berikut:

    • Batas batuan andesit secara 2-D atau dalam section
    • Struktur lokal pengontrol batuan andesit dan geologi sekitar
    • Penampang geologi 2-D
    • sebaran andesit 2-D
    • sebaran dan estimasi cadangan 3-D

    Pengukuran juga bisa dilakukan dengan metode sounding (1-D) dengan harga dan waktu lebih murah dan efisien, tetapi produk hasil akhir dari pengukuran tidak bisa secara detail untuk memetakan sebaran lateral dan vertikal baik 2-D maupun 3-D.

    Output yang dihasilkan akan bergantung pada kebutuhan dan efisiensi Cost karena output akan berkaitan dengan konfigurasi,spasi elektroda,spasi lintasan dan lainya sehingga otomatis akan mempengaruhi kalkulasi cost dan waktu dan juga output yang akan dihasilkan.

    –> Untuk keperluan eksplorasi dan pengembangan silahkan hubungi kami, jangan segan-segan untuk mengirim email atau telepon jika dibutuhkan.

  • Survey topografi mencakup berbagai kebutuhan di banyak bidang seperti pertambangan, konstruksi,pekerjaan sipil,perumahan,dan lainya. Pekerjaan survey geodesi sangat penting karena berhubungan dengan posisi,keakuratan,ketelitian suatu design baik itu perumahan,pertambangan,pembangunan konstruksi,perminyakan.Ada beberapa aplikasi untuk alat-alat ukur survey atau geodesi,diantaranya:

    Bidang Pertambangan:

    Biasanya perusahaan pertambang skala besar, katakanlah mereka punya KP atau luas daerahnya lebih dari 200 ribu hektar, rata-rata menggunakan data citra satelit untuk pengolahannya,disini yang digunakan ilmu geomatiknya, ini ada di Adaro & KPC. Disamping itu kebutuhan akan surveyor yang menguasai basic hidrografi sangatlah penting, untuk mengukur luas dan kedalaman air pada tambang yang jelas tidak bisa di ukur oleh total stasion. Tentunya dunia GPS tidak akan pernah terlepas dari surveyor tambang untuk pembuatan titik ikat yang berjarak jauh.

    Rata-rata surveyor yang sudah punya pengalaman di lapangan, biasanya diarahkan untuk sebagai survey data processing untuk pengolahan selanjutkan ke perhitungan volume, perhitungan cadangan, desain jalan, dan malah banyak pula yang merangkap ke mine plan, untuk menghitung kapasitas alat untuk menghitung target bulanan atau ke design tambang untuk merencanakan bentuk tambang, kemana arah jalan, berapa jumlah bench yang di perlukan, sudut kemiringan design tambang agar tidak terjadi longsoran, dan menentukan berapa kapasitas tanah penutup (overburden & interburden).

    Ada pun jenis-jenis pekerjaan lain yang dilakukan oleh surveyor pertambangan adalah :

    1. Juru ukur tambang bertanggung jawab untuk menunjuk atau menentukan arah dan batas-batas yang akan digali sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
    2. Juru ukur harus segera melapor kepada petugas yang bertanggung jawab atas pekerjaan penggalian apabila mendekati (tidak kurang 50meter) dari tempat- tempat yang mempunyai potensi bahaya seperti kantong-kantong air, gas-gas berbahaya, semburan batu (rock burst), dan permukaan tanah atau penyangga- penyangga yang dapat membahayakan penggalian tersebut.
    3. Sedapat mungkin mengambil langkah-langkah untuk membuat ketepatan dari setiap peta-peta, gambar-gambar atas peta penampang yang belum dibuat olehnya atau yang dibawah pengawasannya.
    4. Harus melaporkan kepada Kepala Teknik Tambang, apabila ada keragu- raguan akan ketepatan dari setiap peta, gambar-gambar atau peta penampang dari tambang yang tidak dapat dibuat oleh atau di bawah pengawas juru ukur tambang, yang mungkin menimbulkan dampaak terhadap pekerjaan dan kegiatan tambang atau keselamatan orang-orang ditambang.
    5. Mengecek kapakah daerah tersebut sudah memiliki peta topografi. Jika peta dasar (peta topografi) dari daerah eksplorasi sudah tersedia, maka survei dan pemetaan singkapan (outcrop) atau gejala geologi lainnya sudah dapat dimulai (peta topografi skala 1 : 50.000 atau 1 : 25.000). Tetapi jika belum ada, maka perlu dilakukan pemetaan topografi lebih dahulu. Kalau di daerah tersebut sudah ada peta geologi, maka hal ini sangat menguntungkan, karena survei bisa langsung ditujukan untuk mencari tanda-tanda endapan yang dicari (singkapan), melengkapi peta geologi dan mengambil conto dari singkapan-singkapan yang penting.
    6. Selain singkapan-singkapan batuan pembawa bahan galian atau batubara (sasaran langsung), yang perlu juga diperhatikan adalah perubahan/batas batuan, orientasi lapisan batuan sedimen (jurus dan kemiringan), orientasi sesar dan tanda-tanda lainnya. Hal-hal penting tersebut harus diplot pada peta dasar dengan bantuan alat-alat seperti kompas geologi, inklinometer, altimeter, serta tanda-tanda alami seperti bukit, lembah, belokan sungai, jalan, kampung, dll. Dengan demikian peta geologi dapat dilengkapi atau dibuat baru (peta singkapan).
    7. Tanda-tanda yang sudah diplot pada peta tersebut kemudian digabungkan dan dibuat penampang tegak atau model penyebarannya (model geologi). Dengan model geologi hepatitik tersebut kemudian dirancang pengambilan conto dengan cara acak, pembuatan sumur uji (test pit), pembuatan paritan (trenching), dan jika diperlukan dilakukan pemboran. Lokasi-lokasi tersebut kemudian harus diplot dengan tepat di peta (dengan bantuan alat ukur, teodolit, BTM, dll.).

    Dari kegiatan ini akan dihasilkan model geologi, model penyebaran endapan, gambaran mengenai cadangan geologi, kadar awal, dll. dipakai untuk menetapkan apakah daerah survei yang bersangkutan memberikan harapan baik (prospek) atau tidak. Kalau daerah tersebut mempunyai prospek yang baik maka dapat diteruskan dengan tahap eksplorasi selanjutnya.

    1

    3
    79
    845610111213

  • CSAMT is modern audio-frequency-domain electromagnetic sounding method. In recent years popularity increase because of high data quality,  cost and time effectiveness and relative easy interpretation. CSAMT belongs to electromagnetic frequency domain methods, magnetotelluric methods with fixed grounded artificial in depended stable signal source.

    Result is resistivity model of environment. The resistivity of geological environment relate to geological blocks. Basic factors affecting resistivity are petrographic structure, mineralogical contents, porosity, pore fluids and presence mineral assemblages. CSAMT provide information about geological structure, lithology, presence of faults and other tectonic features underwater levels underwater movement, salinity and contaminants. In cooperation with magnetotelluric, gravimetry, magnetometry and seismic provide powerful and efficiency tool for deep investigation.

    Vertical resolution of methods is from 50 m to 1500 m ( in suitable geological conditions up to 2 km). Vertical resolution depends from using transmitting. Standard AMT frequency are ( od 0.5 do 8192 Hz). Lower frequency offers deep information, but extend duration of measurement. Advantage of CSAMT towards  AMT is using artificial transmitting source  of signal what afford opportunity in areas with high-level electromagneticnoise  and  AMT signal is hard detected or is not present. Basic theory of  MT (magnetotelluric) method has been in   1953 – Cagnaird a 1950 – Tikhonov. From 1975 are develop control source system Goldstein a Strangway, Zonge a Hughes.

    Using of method:

    METAL EXPLORATION: Geological mapping, prospecting of massive sulfide mineralization, prospecting of hydrothermal altered, zones of impregnation, faults structure.

    Hydrogeological and geothermal exploration: geological structures, lithology, water flowing presence of certain mineral assemblages, salinity

    Petroleum exploration:

     Engineering geology exploration: mainly deep structures – tunnels

    Basic geological exploration and geological research: supplemental methods for MT for shallow geological mapping (up to 1.5 km)

    Logistic of measurement: Measuring requires transmitting of electromagnetic control signal with exact frequency on transmitter site and recording of electric and magnetic component of electromagnetic field on receiver site.

     

    Distance between transmitter and receiver is from 5 to 15 km and depends on depth of exploration and resistivity conditions and quality of signal (nose level). Transmitter is during the campaign static. Receiver is moving along measurement station.

    Density of station along the line is limited factor for lateral resolution. Distance of station can be from 25m to 500m according geological  problem. Vertical resolution and depth of measurement is depend of using frequencies and resistivity of geological environment. Vertical resolution is generally from od 5 do 20%  of depth.

    On transmitter side we use grounded tripole. It make possible rotate of current vector. Length of dipole branch is from 500 to 1000m. Maximum current of our configuration is 60A. On receiver site magnitude a phase  can be measured from  2 to 5 electric a magnetic components Ex , Ey, Hx, Hy, Hz. Ex, Ey are perpendicular on each other electric dipole. Hx, Hy, Hz are magnetic components.

     

     

     

     

    Processing:

    Depth of exploration is h =  356*  √ρ/f   , directly proportional of resistivity of environment  and inverse proportional of frequency. With decreasing resistivity and increasing frequency is depth exploration more shallow. With increasing resistivity and decreasing frequency is depth exploration more deeply. Changing of frequency we obtain vertical sounding curvature.

    First step of processing is PREPROCESSING. Data are recording in time dependence from all sensors. Task of preprocessing is by using Fourier transformation  carry on data from time domain to frequency domain. After finishing preprocessing we get   *.edi format – it is international standard format of electromagnetic data.

    In next we are using  1D a 2D inversion for creating resistivity models. Result of  measuring are resistivity vertical sections, resistivity blocks models and also horizontal sections and 3 d resistivity models. Koral company owns  complete MT/CSAMT systems, inversion  processing software  ZOND1DMT a ZOND2DMT, and we have also tight cooperation with MT/CSAMT equipment producer METRONIX and with author ZOND software. Result of good cooperation is case study from 2013. Main CSAMT projects: metal exploration veins Strieborna and  Čucme,  Pača area Rožňava, talk deposit Gemerská Poloma, tunnel in  Soroške, hydrogeological exploration: Dargov, in area Bešeňova-Lúčky and Demänovska dolina.

    Result examples:

     

     

     

    sumber web CSAMT: http://www.koral.sk

  • akusisi

    Pengambilan Data GPR (1)

    akusisi2

    Pengambilan Data GPR (2)

    ultragpr

    Skema Penjalaran gelomabang dari Transmitter ke Receiver

    nickel zone

    Stratigrafi Geologi Nikel laterit

    3

    Hasil Analisis Data GPR

    4

    Sebaran Lateral tiap Lapisan

    Output yang bisa didapatkan dari survey GPR dalam eksplorasi Nikel Laterit adalah:

    • Batas antara soil dengan target atau target dengan target yang lain
    • Korelasi kedalaman dan ketebalan dengan data logging atau stratigrafi geologi dari coring atau bor
    • Geologi bawah permukaan berupa sebaran dan topografi bawah permukaan dalam section 2-D
    • Geologi bawah permukaan berupa ketebalan dan kedalaman masing-masing target dalam peta 2-D
    • Ketebalan dan kedalaman bawah permukaan masing-masing target dalam peta 3-D
    • Estimasi cadangan terkira masing-masing target

    Sumber: UltraGPR

  • mn4-1

    Kompilasi data magnet, hasil mapping,struktur dan sebaran mangan

    mn3-1

    Kompilasi data topografi, sebaran mangan dan struktur geologi

    mn2-1

    Kompilasi topografi, sebarang mangan, mapping geologi dan struktur geologi

    mn1-1

    Kompilasi Topografi, data magnet, struktur geologi dan sebaran mangan

    Aplikasi metode magnet untuk analisa struktur geologi bagus diterapkan di daerah dengan struktur tinggi,karena dengan struktur geologi yang komplek kemenerusan batuan baik secara lateral maupun vertikal bisa diidentifikasi dari data magnet. Yang biasa dilakukan untuk menganalisis data struktur.

    Struktur yang sering disajikan dalam data magnetik adalah interpretasi kualitatif yang berkorelasi dengan batas-batas tiap batuan atau zona kontak yang bisa diidentifikasi berupa sesar-sesar minor. Dalam eksplorasi mineral zona kontak ini sangat penting untuk memudahkan sebaran lateral dan vertikal dari mineral tersebut. Umumnya mineralisasi batuan terbentuk di zona-zona kontak tersebut.

    Zona kontak ini akan lebih membantu interpretasi jika disandingkan dengan data mapping atau data geologi lain berupa outrop atau struktur regional sehingga membangun pola-pola di daerah survey tersebut. Zona kontak bisa saja berbeda arah sudut dan kemenerusanya karena zona kontak yang terjadi berupa zona kontak lokal yang diakibatkan bukan hanya karena ada teknonik tetapi adanya gaya dorong batuan berupa longsoran, endapan dan pergeseran lokal, sehingga bisa saja arah dan kemenerusanya berbeda tetapi tidak berlawanan.

    Hasil yang bisa didapatkan dari survey magnetik adalah:

    • Anomaly magnetik yang mengindikasikan sebaran batuan termasuk sebaran target seperti mineral, batubara dan lainya
    • Struktur lokal seperti zona kontak antara target dan batuan pembawanya, sesar lokal, sedimentasi dan geologi bawah permukaan
    • Ketebalan dan kedalaman batuan atau mineral
    • Pemodelan 3-D bawah permukaan yang menggambarkan kondisi geologi bawah permukaan
    • Isopach atau Isochron suatu lapisan
    • Estimasi cadangan terkira dari data magnetik
  • i1-1 i2-1 i3-1 i4-1 i5-1

    Pemodelan data magnetik untuk eksplorasi biji besi bisa didekati dengan beberapa pendekatan pemodelan. Pemodelan yang biasa dilakukan untuk mengetahui range nilai suatu batuan atau mineral bisa dengan pemodelan suscptibilitasnya. Dengan melakukan pemodelan susceptibilitas, batuan atau mineral yang termodelkan akan terklfasifikasikan dengan range nilai yang menyatakan ciri atau karakter batuan atau mineral tersebut.

    Biji besi merupakan mineral dengan nilai kemagnetan yang tinggi atau kerentanan yang tinggi sehingga akan memudahkan pemodelan susceptibilitas/kerentananya sesuai range nilai yang ada pada batuan atau mineralnya.